Apakah an
da percaya dengan kebetulan?
Saya masih ingat pesan yang disampaikan oleh Master Uguay dalam film Kung Fu Panda. “There is no accident (kebetulan)”. Apakah benar di dunia ini tidak ada kebetulan?
Pada artikel saya yang berjudul “like attract like”. Saya pernah menulis mengenai“the law of attraction”. Di dunia ini ada hukum yang dikenal dengan hukum tarik-menarik (the law of attraction). Kita dapat menarik hal yang kita inginkan melalui pikiran kita. Inilah yang dibahas dalam buku The Secret
Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya menggunakan hukum tarik menarik ini.
Ketika akhir SMA saya, saya membuat sebuah goals yaitu diterima di Fakultas Psikologi melalui jalur beasiswa di Jakarta. Singkat cerita ketika lulus, saya melanjutkan perguruan tinggi melalui jalur beasiswa di Jakarta.
Sejak semester satu perkuliahan saya di BiNus University, saya memiliki goals juga, yaitu mendapat IP 4 atau mendapatkan beasiswa selama kuliah saya. Demi goals saya, saya belajar dengan baik, berdoa dan juga melakukan visualisasi.
Semester satu pun berakhir. Saya tidak mendapatkan IP 4, tetapi saya mendapatkan pilihan kedua saya. Saya mendapat potongan biaya SKS yang membantu mengurangi pengeluaran kakak saya. Sekali lagi saya sangat bersyukur dan berterima kasih karena keinginan saya terkabulkan.
Saya membuat goals yang sama pada semester berikutnya. Sayangnya pada semester ini nilai UTS (ujian tengah semester) saya yang hanya cukup untuk makan “warteg”. Saya lebih suka makan di “restoran“, jadi mau tidak mau nilai ujian akhir saya harus jauh lebih bagus. Ternyata saya tersandung batu. Banyak jawaban saya yang salah ketika ujian akhir. Sepertinya nilai saya jatuh pada semester ini. Bim sala bim, ternyata nilai ujian saya memuaskan dan saya mendapatkan beasiswa lagi.
Saya sempat bingung. Mengapa nilai saya begitu di luar dugaan. Apakah ini kebetulan? Kalau kebetulan, kok sering banget?
Saya pun mengkroscek kembali apa yang telah saya lakukan hingga bisa mencapai goals itu. Ternyata saya yang menariknya melalui berbagai hal yang saya lakukan.
Ketika nilai ujian saya belum keluar. Saya menuliskan impian saya. Dengan begitu yakin. Saya menulis kalimat ini
“saya selalu mendapatkan beasiswa selama kuliah saya”.
Saya “menginstallnya” ke pikiran bawah sadar. Saya percaya pikiran bawah sadar bisa bekerja sama untuk meraih goals saya. Tak lupa saya berdoa dan bersyukur setiap malam sebelum tidur dan setiap pagi ketika bangun. Itulah hal yang saya lakukan sebelum nilai ujian akhir keluar.
Saya tidak mengerti bagaimana mekanisme terjadinya hal ini. Tetapi hasil akhir membuktikan adanya hukum tarik menarik ini. Hingga saya berkesimpulan bahwa menuliskan impian cukup “berbahaya” karena anda bisa mendapatkan hal yang anda inginkan. Namun, saya yakin pasti ada faktor lain yang bermain. Karena doa dan rasa syukur saya juga keinginan saya dikabulkan.
Sebelum mengakhiri kisah nyata ini. Ada kisah satu kisah lagi mengenai hukum tarik menarik ini.
Notebook acer yang saya gunakan mengalami kerusakan pada LCDnya, saya ingin ganti sebuah notebook baru. Kakak saya pernah berkata ingin membelikan saya notebook baru tetapi dia tidak mengatakan kapan dia membelinya.
Waktu itu adalah pertengahan juli. Saya menulis pada daftar impian saya.
“saya memiliki notebook baru pada akhir bulan juli”.
Tetapi saya menghapusnya karena saya berpikir tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Dari mana saya bisa mendapatkan notebook baru dalam waktu sedekat itu. Meskipun saya menghapus impian itu dari buku, saya tidak menghapusnya di pikiran saya.
Awal Agustus lalu, tiba-tiba saya diajak untuk membeli notebook baru. Aneh tetapi nyata saya memiliki notebook baru hanya berbeda beberapa hari dari waktu impian saya.
Dari kisah saya mendapatkan beasiswa, hingga saya memiliki notebook baru. Semua terjadi seolah-olah di luar dugaan. Apakah ini kebetulan? Jika iya, apakah mungkin kebetulan terjadi berulang-ulang?
Saya kira anda juga bisa menarik hal yang anda inginkan, mewujudkan goals anda menjadi kenyataan. Saya yakin pikiran berperan penting dalam mencapai apa yang kita inginkan. Semua kembali lagi kepada kita yang menggunakan pikiran itu. Di samping itu kita juga perlu usaha untuk meraih goals kita.
Banyak pakar yang mengatakan pikiran sangat powerfull. Namun, pikiran hanya sebagai alat bantu (tools). Jangan pernah meNuhankan pikiran anda. Kalimat ini saya kutip dari pesan pakar mind technology, Adi W. Gunawan.
Jika Tuhan tidak mengabulkan keinginan saya. Saya juga tidak bisa mendapatkan hal-hal di atas. Oleh karena itu saya tetap berdoa, bersyukur, dan berterima kasih kepada Tuhan. Saya berharap dapat mencapai goals-goals saya yang lainnya. Saya juga berharap anda dapat mencapai goals anda.
Jadi apakah kebetulan itu ada? Saya lebih setuju dengan Master Uguay.
menurut anda, tidak adanya kebetulan itu dikarenakan adanya “the law of attraction”, karena kita dapat menarik sesuatu yang kita inginkan melalui pikiran kita…
menurut anda, kejadian-kejadian yang anda alami bukan secara kebetulan karena semua itu termasuk dalam daftar impian anda dan adanya faktor-faktor lain seperti berdoa dan bersyukur..
tetapi bagaimana dengan kejadian yang benar-benar di luar dugaan? apakah hal-hal semacam ini bukan kebetulan?
misalnya, saya secara tidak sengaja mengetahui sebuah rahasia seorang anggota keluarga saya, padahal saya tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya, menurut anda apakah ini sebuah kebetulan? dan jika bukan kebetulan, maka apakah itu?
Terima Kasih atas pertanyaannya.
Hal yang harus terjadi memang harus terjadi, kita tidak bisa menghentikan sesuatu yang memang harus terjadi karena hal itu diluar kekuasaan kita.
Kadang kala ada kejadian yang terjadi sangat tidak terduga, bahkan tanpa kepikiran sekali pun.
Sama seperti ketika anda pergi dari rumah dan tiba-tiba saja turun hujan lebat dan anda basah kuyup. Apakah anda bisa menghentikan hujan itu? May be yes, may be no. Yes, kalau anda seorang pawang hujan. Yang terpenting disini adalah bagaimana agar anda tidak lebih basah lagi? Apa yang harus anda lakukan agar tidak basah lagi?
Saya tidak bisa mengatakan kebetulan yang anda maksud itu sebagai kebetulan yang saya katakan atau tidak.
Saya hanya bisa mengatakan mungkin sudah saatnya anda tahu rahasia itu.
Sekarang tergantung anda yang menyikapinya. Dengan informasi ini, apa yang harus anda lakukan. Bagaimana anda menyikapinya, apakah anda harus menjaganya atau anda membongkarnya?
Jadi tindakan kita dalam menyikapi hal yang kita alami itu jauh lebih penting.
Anda mau pakai payung atau berteduh dulu?
hehee…
Terima Kasih.
Juni Anton