Tulisan Berikut ini merupakan salah satu hasil karya tugas pribadi saya pada mata kuliah Psikologi Seksualitas. Semoga bermanfaat.
Pendidikan seksual (sexual education) merupakan suatu istilah yang umum digunakan untuk menjelaskan tentang anatomi seksual manusia, reproduksi seksual, hubungan seksual, kesehatan reproduksi, hubungan emosional, hak-hak reproduksi dan tanggungjawab, dan aspek lain dari perilaku seksual manusia.
Apakah pendidikan seksual perlu diberikan? Jika perlu, kapan waktu yang tepat untuk memberikan pendidikan seksual itu? Dua pertanyaan ini masih menjadi tanda tanya bagian sebagian orang, khususnya para orangtua.
Menurut Kartono Mohammad (1991), pendidikan seksual yang baik bertujuan untuk membina sebuah keluarga dan menjadi orangtua yang bertanggungjawab. Kurangnya pengetahuan tentang pendidikan seksual berdampak negatif kepada pasangan yang sedang pacaran maupun yang sudah menikah.
Di era globalisasi ini, arus informasi mengalir begitu deras, siapa pun bisa mendapatkan informasi dengan mudah. Bagi anak-anak dan remaja, sangat mudah untuk mendapatkan informasi-informasi yang berhubungan dengan seksualitas. Jika tidak mendapatkan pendidikan seks yang sepatutnya maka bisa berdampak negatif kepada anak-anak dan remaja.
Sarlito (1994) dalam bukunya yang berjudul Psikologi Remaja, menjelaskan bahwa pendidikan seksual secara umum merupakan cara pengajaran atau pendidikan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. Pendidikan seksual yang diajarkan sepatutnya berkaitan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat bukan berdasarkan mitos-mitos yang belum tentu kebenarannya.
Menurut penelitian BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) lebih dari 60 persen remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah. Hal ini dikarenakan minimnya pendidikan seksual kepada anak-anak dan remaja di Indonesia. Kurangnya pendidikan yang benar tentang seksual membuat anak dan remaja belajar sendiri dari lingkungannya. Penemuan yang dilakukan oleh Rodgers & Rowe (1998) menyatakan alasan utama remaja memiliki aktivitas seksual yang tinggi karena mencontoh melalui saudaranya yang lebih dewasa.
Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan antara pemberikan pendidikan seksual sejak dini terhadap peningkatan aktivitas atau perilaku seksual pada remaja. Jadi selagi pendidikan seksual itu diberikan secara benar justru berdampak positif terhadap anak dan remaja.
Pendidikan seksual tidak sekedar membicarakan tentang alat vital pria dan wanita, lebih spesifik lagi pendidikan seksual bertujuan untuk membentuk sikap emosional yang sehat. Secara emosional seksualitas merupakan bagaimana individu berinteraksi dengan orang lain, apa hubungan yang dikembangkan, bagaimana cinta dan kasih sayang yang ditunjukkan, dan bagaimana individu merasa tentang tubuhnya (Amy Swango & Wilson, 2008).
Pentingnya pendidikan seksual bagi emosional anak dan ramaja diperkuat lagi oleh Lunsky dan Konstantareas yang mengatakan bahwa perasaan seksualitas sangat penting bagi perkembangan fisik, mental, dan kesehatan sosial pada individu. Dampak buruk kurangnya pengetahuan tentang seksualitas bisa mengakibatkan kurangnya pemberdayaan pribadi, ketidakmampuan utnuk membuat keputusan seksual secara mandiri dari sosial yang merupakan dasar dari kebutaan terhadap perasaan atau emosional individu (Quilliam, 2004).
Penyampaian materi pendidikan seksual perlu dilakukan sejak dini, ketika anak sudah mulai memberikan pertanyaan seputar alat kelamin dirinya (Singgih, D.Gunarsa, 1995). Menurut Kirby (1980), pemberian instruksi pada pendidikan seksual dapat meningkatkan pengetahuan seksual pada anak dan remaja secara positif .
Orang yang paling bertanggungjawab atas pendidikan seksual anak dan remaja adalah orangtua pengasuh. Hasil penelitian Amy Swango & Wilson (2008), menunjukkan bahwa persepsi atau pandangan yang dimiliki oleh pengasuh sangat mempengaruhi pendidikan seksual pada anak.
Selama tidak diawasi anak atau remaja bisa saja mendapatkan pendidikan seksual secara bebas dari lingkungannya. Somers & Gleason (2001) menemukan beberapa sumber utama pembelajaran tentang seksualitas adalah media, rekan seusia (peers), para profesional, bimbingan konseling sekolah, dan keluarga.
Cara memberikan pendidikan seksual juga tidak sembarangan. Orang tua perlu terbuka kepada anak tentang masalah seksualitas. Orangtua juga perlu mengajarkan pendidikan seksual berdasarkan tingkat usia dan tahapan perkembangan anak. Mulai dari balita hingga remaja, cara penyampaian pengetahuan tentang seksualitas sangatlah berbeda, begitu juga pengetahuan yang sampaikan. Jadi orangtua perlu jeli melihat perkembangannya anaknya.
Mengutip Rogers dan Rowe, anak mempelajari pendidikan seksual dari orang sekitarnya yang lebih dewasa, oleh karena itu orangtua perlu mengajarkan pendidikan seksual secara positif, baik dan benar, agar tidak menimulkan kesalahan persepsi pada anak yang baru mau belajar.
Referensi:
Giami, Alain., et al. (2006). Inaugural Debate: Sex Education in School is Insufficient to Support Adolescents in the 21st Century. Sexual and Relationship Therapy, Vol. 21, No. 4.
Mu’tadin, Zainun. (2008). Pendidikan Seksual pada Remaja. Retrieved November 8, 2010, from: http://www.ilmupsikologi.com/?p=20
Pendidikan Seks untuk Anak. (2010). Retrieved November 8, 2010, from: http://www.orangtua.org/?p=61
Sex Education. (2010). Retrieved November 8, 2010, from: http://en.wikipedia.org/wiki/Sex_education
Somers, Cheryl L & Eaves, Matt W. (2001). Is Earlier Sex Education Harmful? An Analysis of Timing of School-Based Sex Edication and Adolescent Sexual Behaviors. Research in Education No. 67.
Somers, Cheryl L & Surmann, Amy T. (2005). Sources and Timing of Sex Educaion: Relations with American Adolescent Sexual Attitudes and Behavior. Educational Review, Vol. 57, No. 1.
Swango, Amy & Wilson. (2008). Caregivers Perceptions and Implications for Sex Education for Individuals with Intellectual and Developmental Disabilities. Sex Disabil (2008) 26: 167-174.